?

Log in

hana_wulz

「なで」はやめてくれ・・。

« previous entry | next entry »
Jun. 7th, 2013 | 01:32 am
Mood: lonelylonely
Music: GRANRODEO - Uso no Iro

びっくりしたんだよ。ねえ、そうしないで。頭に「なで」って。やめて。俺がもっとのを欲しくなるから。リアルにもらえるなんて欲しくないから。凄くやばいことになるから。

なぜだって?じゃ、教えてあげる。主人公の目からね~♪

ここからはハナの世界だ。

Setiap Hana terbaring lemah, ia selalu ada disana. Setiap Hana butuh pegangan, ia selalu siap menyodorkan tangannya. Tiap Hana butuh kehangatan, ia akan menghampirinya karena rasa yang sama. Satu-dua tekanan dari telapak tangannya ke atas kepalanya, mengacak rambutnya, dan juga kekacauan hatinya, mengaburkannya dengan senyum langkanya; Warisan ibu mereka.

Suatu kali dalam hari-hari memorinya kembali, Hana yang sedang menikmati teh susu sekaligus nostalgia rumah sendiri beranjak dari duduknya di ruang tengah dan merasakan tusukan jarum kecil di kepalanya, gejala biasa bagi pasien Amnesia yang sedang dalam masa penyembuhan -dan ditambah dengan darah rendahnya yang semakin parah karena tidur terus-menerus. Untungnya tusukan itu hanya sesaat, seakan memperingatkan akan serbuan yang akan datang. Sambil memegang kepalanya, Hana bergegas ke dapur untuk meletakkan gelasnya yang sudah kosong sambil berencana untuk kembali ke kamar secepatnya. Namun belum sampai ke dapur, tusukan itu datang lagi, kali ini sepuluh kali lebih tajam. Hana yang kehilangan keseimbangan otomatis mencari dinding untuk menahan badan. Gelas plastiknya berkelontangan di lantai. Ia merebahkan berat badannya pada dinding, sambil menenangkan diri. Suara kelontang gelasnya digantikan dengan derak langkah tergegas yang diiringi bau-bau kecemasan. Setelah Hana bisa membedakan mana atas dan mana bawah kembali, ia memungut gelasnya dan akhirnya berhasil meletakannya di tempat cuci piring. Ia kemudian berjalan menuju tangga sambil masih berpegangan pada dinding. Kepalanya pusing, dan seluruh pemandangannya buram. Di belakang matanya seakan ada layar transparan yang menghalanginya dari dunia nyata.
Derap langkah itu semakin dekat, diiringi sapa khawatir.
"Hana? Hana? Shikkari.."
TIba-tiba sapaan dengan volume lebih keras menerpa telinganya, bersamaan dengan lampu sorot yang begitu silau di layar di balik bola matanya. Jarum-jarum itu kembali, kali ini seribu kali lebih banyak. Hana ingin berteriak karena sakit, namun kemudian segalanya gelap.
...
Rasanya susah sekali. Padahal tidak ada apa-apa, tapi ia merasa susah sekali. Ternyata dirinya sedang berusaha membuka kelopak mata. Mata kembarannya yang hitam gemerlap tepat diatasnya, dibelakangnya adalah langit-langit kamar mereka. Nafas kembarannya itu berat, seakan baru berlari keliling desa sepuluh kali. Kemudian ia sadar nafasnya sama beratnya. Tangan kanannya mencengkram lengan baju kembarannya itu, dan kedua tangan kembarannya itu mencengkram pundaknya. Sesuatu yang hangat mengalir dari matanya, dan sadarlah ia kedua matanya basah.
Pasti itu lagi. Biarpun memori-memori itu memulihkan diri, tapi apa gunanya ia menahan sakit padahal tubuhnya sendiri menolak ingatan-ingatan itu. Otak manusia memang penuh bug. Pemulihan memori itu terjadi secara alami, namun karena logisnya ingatan itu menyakitkan, tubuh pun spontan menolak sekuat tenaga. Jadi apa gunanya? Apa gunanya kalau ia tetap saja tak ingat memorinya yang hilang itu?
Dikuasai rasa kesal dan pusing yang bercokol di dalam tengkoraknya, Hana terisak. Kembarannya memeluknya, mengusap kepalanya perlahan.
"Hana, kau memang pernah hilang, tapi berapa kali pun kau lenyap dari pandangan, kau pasti akan kembali lagi.", gumamnya. "Seperti sekarang...", tambahnya pelan.
Dan kemudian Hana ingat, kelebatan orang-orang yang sangat besar, sementara ia mungil dalam ketakutannya mencari-cari suara ibunya yang memanggil namanya di keramaian. Suara ibunya yang memanggil namanya...
Hana terisak lebih keras ke dalam dekapan kembarannya, yang tak bisa berbuat apa-apa selain menenangkannya dengan mengusap kepalanya perlahan, trik ibunya saat mereka kecil. Beberapa menit berlalu, Hana tertidur dalam kehangatan itu. Hanya rasa lelah yang benar-benar tak tertahankan yang mencoba menariknya ke dalam damai.
Tak tega melepas pelukannya, dan diiringi lelah akan sakit dan memori yang jauh bukan dari dirinya, Kaka pun membiarkan dirinya tertidur disisi kembarannya, mencegah agar dia tidak mengamuk lagi kalau-kalau gejala itu kembali. Alasan. Ya, alasan. Yang sebenarnya adalah, ia merindukan kehangatan diantara mereka, aroma yang hilang ketika imouto-nya itu hilang jejaknya. Ia rasanya rindu pada wajah lelah Hana, dan ia sendiri lelah berada dalam kesepian.

ということで、オニャンスミ~☆

Link | Comment | Share

Comments {0}